(Bisnis Komunikasi Jaringan), "Solusi Kerjasama!"

“Suka Beli Sate daripada Beli Kambing” Wakili Realitas Pergaulan




Oleh_@Eka Aprilia, S.Ag
(Ratu Eka Bkj)

Founder PenulisanEkaBkj.com

Founder EKABKJ.com


Ungkapan “Suka Beli Sate daripada Beli Kambing” menjadi tren di kalangan masyarakat. Berbagai fenomena menunjukkan bahwa ungkapan ini menjadi budaya dalam bergaul. Hal itu berdampak pada kehancuran moral Bangsa, runtuhnya kaidah Agama dan berbagai sisi negatif menghampiri kehidupan Kita.


Di era globalisasi seperti saat ini berbagai tindakan kurang pantas muncul di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya remaja. Remaja saat ini dihadapkan oleh pergaulan bebas yang dapat menjerumuskan mereka pada tindakan-tindakan amoral. Salah satu ungkapan yang booming saat ini ialah “Lebih Suka Beli Sate daripada Beli Kambing”. Ungkapan ini mengandung arti mengenai pola pikir masyarakat lebih menyukai berpacaran dari pada pernikahan. Pola pikir ini merupakan budaya Barat yang tidak sesuai dengan norma-norma di Indonesia. Selain itu, pun tidak sesuai ajaran agama Islam yang notabennya dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia.

Faktanya tidak jarang Kita melihat muda-mudi yang bukan muhrimnya berduaan dan bermesraan  di berbagai tempat, baik tempat sepi maupun keramaiaan. Berawal dari berpegangan tangan dan berpandang-pandangan, tidak sadar berlanjut dengan aksi-aksi mencengangkan. Real nya saja seperti berciuman, berpelukan dan berujung pada perbuatan hina.

Salah satu teman saya yang bersedia menceritakan kisah pacarannya, sebut saja namanya Ani. Awalnya Ani belum pernah berpacaran. Namun, karena ejekan teman-teman Dia mencoba untuk menjalin hubungan dengan seorang Pria yang sudah berpengalaman dalam segi pacaran, sebut saja namanya Dion. ”Suatu malam itu saya dan Dina main di suatu tempat yang cukup sepi, saat berduaan Dia menatap mataku dengan tajam sambil memegang tanganku kemudian berlanjut membelai-belai diriku, rasanya tubuh ini gemetaran dan pikiranku mulai kemana-mana” katanya.

Ani mencoba mengendalikan pemikiran itu, namun aksi Dion yang terus berlanjut membuatnya semakin tidak bisa terkontrol. Apalagi  Dia termasuk Gadis yang memiliki libido tinggi meski sebenarnya pendiam dan belum pernah pacaran. ”Dion mulai mengecupku dan memainkan bibir beserta lidahku  sambil memeluk, rasanya tubuh dan tanganku mulai mengusik, akupun melakukan aksi belai-membelai tubuhnya bahkan seterusnya hingga berujung pada kenistaan,” curhatnya.

Setelah kejadian itu Dia merasa sangat berdosa, menyesal dan merasa dirinya kotor. Sebab beberapa bulan kemudian Ani hamil, namun tidak mau dinikahi bahkan minta diaborsi. Di tempat itu, terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan. Ani meninggal saat melakukan aborsi.

Sangat memalukan di hadapan Tuhan dan bagaimana seandainya orang tuaku tahu, betapa sedihnya mereka”. Ujarnya. Dengan pengalaman itu, Dia sadar bahwa perbuatan biasa seperti ciuman tidak bisa Kita remehkan begitu saja. Bagi orang yang tidak bisa mengontrol diri bisa menjerumuskan pada kenistaan.

Pergaulan Bebas Telah Meluas

Dari cerita di atas dapat Kita ketahui bahwa tren berpacaran sepertihalnya tradisi orang Barat hanya berdampak negatif bagi si Pelaku. Namun, kebanyakan orang mengabaikan dampak tersebut hingga memilih untuk acuh. Mereka terlena dengan trik-trik Barat yang tanpa disadari hanya menghancurkan budaya Indonesia. Pola pikir “Lebih Suka Beli Sate daripada Beli Kambing” saat ini telah meracuni moral Bangsa.

Seperti yang kita ketahui, pergaulan bebas menjalar di mana-mana. Pacaran telah dianggap keharusan dan pernikahan dianggap tidak terlalu penting. Bermesra-mesrahan telah menjadi kewajiban, bahkan sex di luar nikah tidak tabu lagi asal suka sama suka. Selain itu, anggapan bahwa pacar adalah milik sepenuhnya telah terprogam dalam kehidupan mereka. Bahkan ada yang anti pernikahan, sehingga lebih terobsesi dalam berpacaran dan pergaulan bebas.

Kini, budaya tersebut tidak hanya dapat Kita temui di daerah perkotaan. Melainkan, telah menjamur di berbagai kalangan. Bahkan, di daerah pedesaan juga tercemari seiring dengan berkembangnya teknologi.

Anak pesantren yang berbasis ilmu Agama, juga terdapat beberapa yang berpacaran secara sembunyi-sembunyi. Meskipun terkadang sempat kepergok dan mendapat sanksi Pesantren, namun mereka masih mengulanginya.

Kini pergaulan bebas menjadi pemandangan, terbukti pada tahun 2010 data BKKBN menunjukkan lebih 50% perempuan remaja di kota-kota besar Indonesia sudah tidak perawan. Secara spesifik data itu menyebutkan bahwa 45% perempuan remaja Surabaya, 52% remaja putri Medan, dan 47% gadis bandung kehilangan virginitasnya. Menemukakan pula, 51% gadis usia belasan tahun di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi kehilangan keprawanan. Artinya dari 100 remaja, 51 orang diantaranya melakukan free seks. Penelitian BKKBN yang lebih dasyat, di Jogjakarta kota Gedug terdapat 37% menikah akibat hamil di luar nikah.

Selain itu, video porno menyebar luas di Indonesia. Video  porno dengan pemain yang beraneka ragam baik remaja, orang dewasa, anak sekolah, anak di bawah umur bahkan pelaku dengan seekor hewan melakukannya secara massal, berduaan maupun individu (onani/masturbasi).
Perselingkuhan juga merupakan gambaran dari pergaulan bebas. Perselingkuhan sering terdengar di publik baik secara langsung maupun melalui berita. Pelacuran pun telah menjadi hiasan Indonesia, yang kuantitasnya semakin bertambah.

Fenomena Bangsa seperti ini seharusnya dapat Kita cermati dan menjadi bahan dalam berintrospeksi diri. Seperti teori psikologi behavioris yang dikemukakan oleh Skinner mengatakan bahwa, tingkah laku seseorang ditentukan oleh stimulus (rangsangan) yang direspon. Jika Kita kaitkan dengan hal ini, pergaulan bebas merajalela karena adanya budaya barat masuk sebagai stimulus yang direspon oleh Bangsa Indonesia tanpa adanya pengendalian hukum secara tegas. Hal ini mengakibatkan kerusakan moral Bangsa, merobohkan kaidah Agama dan berdampak negatif bagi Kita. Apakah masih mau bergelut dengan tradisi menyesatkan? Hal ini semestinya menjadi kajian serius bagi para penegak hukum dan pejabat Negara.

Coba Kita lihat betapa lemahnya hukum di Indonesia, hukum yang masih kental dengan kebiasaan suap-menyuap dari pada keadilan. Selain itu, hukum di Indonesia tidak mengatur tentang hubungan sex di luar nikah yang dilakukan oleh orang yang suka sama suka. Hukum hanya mengatur tentang pemerkosaan. Sehingga tidak ada kontrol yang dapat menghentikan pergaulan bebas, para pelaku semakin leluasa melakukan tindakannya.

Pemerintah masih sering mengabaikan masyarakat kecil yang kurang mampu secara ekonomi. Tindakan korupsi para pejabat terhadap uang Negara berdampak pada ketidak sejahteraan rakyat. Sehingga rakyat nekat menjadi Pelacur demi membiayai hidupnya. Selain itu, Pejabat Negara belum mampu memblokir situs-situs porno yang ada di internet dan peredaran vidio porno melalui kaset maupun vidio handphone. Demikian itu menjadi pemicu adanya pergaulan bebas dengan pola pikir “Lebih Suka Beli Sate daripada Beli Kambing”.

Rusaknya moral Bangsa ini dikarenakan pergaulan bebas serta pola pikir yang menyeleweng dari kaidah Agama dan norma di Indonesia. Budaya kebarat-baratan yang dianut masyarakat Indonesia pun turut serta dalam factor ini. Dengan keadaan demikian perlu adanya kebijakan hukum yang mengatur hal tersebut. Kebijakan Pejabat Negara dalam memperhatikan masyarakatnya dan mengatasi fenomena ini, dibutuhkan juga kesadaran bagi masyarakat.


DUKUNG SITUS INI YA PEMIRSA, SUPAYA KAMI SEMANGAT UPLOAD CONTENT DAN BERBAGI ILMU SERTA MANFAAT.

DONASI DAPAT MELALUI BERIKUT INI =

0177-01-042715-50-9

EKA APRILIA.... BRI...

0895367203860

EKA APRILIA, OVO

0 Response to "“Suka Beli Sate daripada Beli Kambing” Wakili Realitas Pergaulan"

Post a Comment

Iklan Dalam Artikel

Iklan Adnow

Iklan Tengah Artikel 2

Adnow