(Bisnis Komunikasi Jaringan), "Solusi Kerjasama!"

BAB 10 Novel Membusuk di Dalam Surga, Habis Gelap Terbitlah Terang

Novel Online

Penulis_@Ratu Eka Bkj

(Eka Aprilia)



10

Habis Gelap Terbitlah Terang



Pernikahan tak terasa sudah berumur 17 tahun. Sungguh bagaikan terbangun dari tempat tidur. Begitu cepat menjalani putaran angin dunia. Nadia telah genap berusia 16 tahun, kelas 3 SMA.


Muara cahaya bagai mengusik kalbu, pelan-pelan menyelusup ke selubung dada angkasa ruang. Mengenai kegelapan, selama ini tertutup langit-langit. Aku yang selama ini dipertanyakan siapa diriku, mengapa daku, seakan menjelma paparan ladang cerita. 


Meniti jejak langkah. Ombak berkocak-kocak seru memandang uapan kacamata, wajahku dalam pagi. Aku terbangun dari lelapan mimpi, terlukis kanvas kenyataan selama ini. Sedikit menyipit. Ku merayap-rayap kepada jalur para patung-patung bicara, mungkin dapat menjelaskan.


***


“Allohuakbar-Allohuakbar. Ashaduallailahaillallah,,,, Ashaduallailailallah,,, Waashadhuannamuhammadarrosulullah,, Waashadhuannamuhammadarrosulullah……..”

Kumandang adzan terdengar nyaring di telinga, pertanda panggilan Tuhan telah datang. Sang sepasang merpati dan itik kesayangan, bangun dari naungan kasur empuk-nya. 


“Allahu Akbar, adzan udah kumandang…Alkhamdulillah. Aby Aby ayo bangun shalat dulu!” ajakku.

“SubhanAllah, sudah pagi? Hemmmm Istriku  sholeha yang cantik bangeeet, emmmuuuaccchhh” sahut suami dengan mesra mengecup kening.

“Hiiiiichhhh Aby (Dengan muka terkejut). Jail deh nggak lucu hehehe (Sambil mencubit pipi suami).”

“Aby Sayang Umy” sahut suami sambil menyambutku, dipeluk.

“Iya Aby. Buah kulbi melayang di pagi hari, ini Umy  juga sayang Aby (Sambil berpantun manis). Tapi ini uda waktunya shalat subuh, shalat dulu yuk Aby!?!”

“Hehehe Aby sampai lupa. Oh ya, pantun Umy secantik kekasih hatiku. Kalau gitu bangunin Nadia dulu yukz My?”

“Abyyyyy, masak lupa shalat!!??? Oke By, ayo dibangunin dulu Nadia!”

“Yuk My.”


Kami beranjak dari kamar tidur, membangunkan buah hati. Tik tik tik, suara hentak kaki menuju kamar Nadia. Beberapa detik kemudian, sampai di depan pintu mengetuk dengan lembut. 

Tok tok tok….

“Nadia bangun dulu yuk shalat subuh!” panggil kita berdua serentak.

“Iya Umy Aby, ini Nadia bangun” jawab Sie Manis. 

 

Dibukalah pintu, lalu bersama-sama menuju  ruang shalat. Wudhu serentak, shalat berjamaah, berdoa, dan terakhir ditutup dengan membaca Al-qur’an.


Beberapa mentari pagi telah terlewati, sekiranya gerak jari yang seakan mengisyaratkan waktu. Jarum jam kini menunjukkan pukul 09.00. Kebetulan banget hari minggu, menghabiskan liburan di rumah. Sedang ingin menikmati nuansa istana, tanpa keluar menghirup udara. Sebab di hadapan terpampang udara sejuk, begitu terhirup wanginya yaitu kebersamaan. 


Tiba-tiba suara gemuruh ngeeeeeeeeengggggg, seeet mobil. Ya mobil. Terdiam di depan rumah, kedua orang menepak-nepak kakinya menuju pintu. 


Ting tong…. Ting tong ….. Ting tong …… suara bel pintu berbunyi.

“Byyyy Myyy, ada orang tuh?” lapor Nadia.

“Iya Sayang, Bibik kayaknya di lantai bawah. Coba panggilin sana untuk buka pintu!” jawabku sambil memerintah.

“Ya Umy.”

“Bibik…. Bibik…. Bibik, bukain pintunya ada tamu!”

“Baik Non.” 

“Yuk ke bawah lihat tamu By!”

“Yuk My” kami pun serentak ke bawah.


Sesampainya di ruang tamu, dengan girangnya dan terkejut melihat teman lamaku di pondok. Aminah, itu nama yang pantas disebut seorang sahabat baikku saat itu.


“Aminah! Benar ini kamu? Ya Allah, tambah cantik aja lama nggak ketemu. Kamu kok tahu rumahku?” gumamku.

“Hemmm masih ingat ya? Kirain udah lupa nggak pernah main kerumahku, gitu ketemu aku makin cantik kaget hehehe” Aminah pun menyelimuti candaan.

“Nya, nggak mending diajak duduk dulu temennya?” saran Bibik menyahut.

“Iya Umy itu kebiasaan, ngobrolnya aja dulu ampek lupa nggak diajak duduk. Capek tauk, ya Tante Om?” sahut Nadia.

“Hehehe, iya iya maaf abis terkejut oooo. Ya udah ayo pada duduk dulu, buatin minum Bik.”

“Iya Nya.”

“Heeemm ini lama nggak ketemu udah punya momongan belum?” tanyaku.

“Udah dong, anak aku ganteng low” jawab Aminah.

“Hemmmm Mbak anak kita dijodohin aja gimana, hehehe?” percandaan Aziz suami Aminah.

“Wah ide keren tuh Mas, penting sama sukanya hehehe,” sahut suami.

“Iya By pasti persahabatan kita tambah rekat. Oh ya, tapi ngomong-ngomong kok gak diajak Sie Gantengnya?” tanyaku heran.

“Derby sibuk kegiatan Ekstrakurikuler basket, Nia” jawab Aminah menjelaskan.

“Keren, cowok pandai main basket. Kapan-kapan diajak kesini ooo!?!?”

Okay” serentak Aminah dan suaminya.


Beberapa percakapan basa-basi bertubi-tubi menyebarkan canda-tawa. Memancarkan kebahagiaan di wajah kami. Bahkan, senyuman tak henti-henti tergambarkan.


Semua serentak terdiam tanpa kata, ketika Aminah dengan tiba-tiba menyuarakan kata-kata  serius di depan perbincangan santai. Misi temanku itu, memberi tahu rahasia orang tuaku yang selama ini tersimpan rapat. Saat ia tak sengaja mendengar perbincangan Ibuku dan Ibunya. 


”Nia kok tidak mirip Mbak, nggak mirip Suamimu juga?” gumam Ibu Aminah. 

“Memang Nia itu anaknya orang Tionghoa, gek wes tak anggep koyo anakku dewe. Bersyukur aku, ya meski  nggak duwe anak kandung, aku duwe anak angkat seng ayu, apik, lan pinter Mbakyu.  Sayang aku sama Nia” secara polosnya Ibu angkat Nia keceplosan.


Aku bagaikan buah yang selama ini tertutup, kini baru terkelupas. Seakan mata terpejam tanpa kesadaran, baru terbuka. Sungguh suatu kenyataan, membuat diriku terpaku sendu. Terkejut. Sedikit demi sedikit tersibak, mengenai keraguanku selama ini. Judul kumpulan surat Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”, sangat pas menggambarkan kondisi aku saat ini.


Seruan, gema kata-kata telah menuangkan kisah. Terasa menggugah pelipis jiwa. Hasrat seakan menguap hingga sampai ubun-ubun, bagai tak mampu terbendung. Hal itu, membuat jasad berjalan menapakkan langkah demi langkah kepada jalan cahaya yang mampu menyinari. Walau harus beberapa juta jalan, akan ku tempuh. Selayaknya, dapat menatap matanya dengan uapan wawancara.


Hari-hari terlewati,  cerita Aminah menuntun aku  mencoba menghubungi teman-teman. Mungkin, ini dapat menjadi sebuah pencerahan yang mampu menjawab buahan tanda tanya. Tit…tit…tit…. Suara pijatan jari-jemari terhadap sebuah makhluk mati, yang mampu menghantarkan ungkapan jarak jauh. HP, ya betul. Alat komunikasi ini, memang sebagai tanda munculnya zaman modern. Semakin memudahkan seseorang dalam menjalin komunikasi. 


Menelusuri semua angka-angka HP kawan-kawan, menghubungi mereka. Penuh harap menemukan malaikat, mampu mengungkap sebuah tabir. Setelah membuka-buka, menemukan nama Budi. Teman waktu masa-masa sekolah. Merasa dia sedikit dekat dengan keluarga, muncul dugaan ini bisa jadi mengetahui.


“Tot…tooottt…tooottt, mohon maaf nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif,” jawaban dalam telepon.

“Ya Allah, apa  Ternyata harapanku pada Budi sirna” resahku.


Aku tetap pantang menyerah, mencari nomer lagi. Bertemu dengan nama cantik berpoles Rindu, hemmm berharap dia dapat terhubung. 

“Toot…toooot…tooootttt, mohon maaf nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif” jawaban dalam telepon.

“Ya Allah, aku harus gimana? Semua nihil….” keluhku pada Tuhan.


Tiba-tiba dari belakang ada seseorang memeluk penuh kasih, dengan untaian nasehat manis.


“Umy, tetaplah bersabar!?! Allah pasti memberi jalan. Kunci sebuah masalah itu tawakal, setelah seseorang berusaha belum mendapat hasil, yakinlah kepasrahan pada Sang Maha Kuasa akan memberi petunjuk bagi seorang hamba” siraman hati suami tercinta. 

“SubhanAllah, Aby ngagetin aja. Makasih By atas penyejuknya.”

“Sama-sama Umy, nggak boleh murung-murung lagi ya!?!?” jawabnya, sambil mencubit hidungku.

“Hehehe oke By. Ya Allah hamba pasrahkan kepada-Mu, aku yakin di tangan-Mu semua menjadi jalan terbaik.”

“Amin ya robbal'alamin. Gitu dong My, kita tidur dulu My udah malam. Istri tercinta kelihatannya juga belum istirahat, semoga nanti ditunjukkan arah jalan dan petunjuk oleh Allah.”

“Amin ya robbal’alamin. Ya By.”


Beberapa hari kemudian, setelah keluarga harmonis ini menjalankan shalat jama’ah dzuhur. Berdiam sebentar, melakukan dzikir. Tidak lama kemudian, tanpa disadari aku tenggelam dalam percintaan bersama Sang Maha Kasih. Mengucur tetes hujan, hingga berujung terhadap cumbuan mesra dari Tuhan. Tiba-tiba terbesit di hati Ibu satu anak ini, “Ahong” seorang sahabat terdekatku bahkan dengan keluargaku sudah seperti keluarga.


“Inikah petunjukmu Ya Robbi?” bunyi itu seketika terlontar, dengan mengeraskan suara.

“Umy ada apa?” tanya pelipur hati, anakku.

“Benarkan My? Bahwa Allah Maha penyayang dan Maha memberi petunjuk, pasti akan hadir untuk membawa Umy pada sinar-sinar lintasan, asal kuncinya Umy tawakal” tutur sang suami tercinta.

“Alhamdulillah Allah memberi Umy petunjuk, anakku. Ya Aby terima kasih atas ceramahnya hehehe.” 

“Gitu dong, lihat tuh Nadia! Umy mu masih seperti biasanya suka bercanda.”

Berpelukanlah bersama.


Sepoi-sepoi awan telah menyapa diriku, bersama tatapan Tuhan yang seakan di depan mata. Petunjuknya mengguyur lentera dengan permata, seakan berkilau-kilau. Sungguh kuasa Pencipta tak mampu menggantikan, walau luas dunia dan seisinya. Ibarat jatuh bangun ragaku akan menjadi bangkai, tak berharga tanpa-Nya. Namun, saat aku mengandalkan Sang Maha mengatur segalanya, semua menjelma jalan terang. Sebuah renungan yang memboncengku dalam Firman Allah SWT:


“Allah pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menentukan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu” (QS. Al-Baqarah:117)


Senja menghembuskan semilir angin ke dalam bujur-bujur lingkaran, sumsum belulang duduk berdua dengan pangeran tercinta.  Berkusik riau dalam candaan cute, mengguling-gulingkan tawa semerbak. Begitu pun selingan romantis nan khas itu, mengkombinasi dengan baju serius dalam perbincangan. Tentang diriku, ya benar. Apa lagi kalau bukan itu. Kita melanjutkan percakapan tadi siang, setelah aku mendapat jawaban dari Tuhan.


“Byyyy. Setelah jawaban Sang Maha Esa itu hadir aku jadi ingat firman Allah dalam QS. Al-Baqarah:117” curhatku.

“Iya Umy, memang segala jika di tangan-Nya tidak ada yang sulit, oleh karena itu Umy banyak-banyak berdoa, berpikir positif dan pasrahkan pada Allah. Namun juga ingat, tetap usaha seperti yang telah diterangkan dalam Al-qur’an pula bahwa Allah tidak akan mengubah nasib hambanya jika dia tidak mengubahnya.”

“Benar banget By.”

“Lalu langkah Umy selanjutnya bagaimana?”

“Umy ingin menemui Kak Ahong.”

“Umy masih punya numb-nya?”

“Masih By tapi nomor sudah lama, masih aktif nggak ya?”

“Buruan dicoba aja My!?!”

“OK.”


Selayar ku menjelajah ke atas reruntutan, apa lagi kalau bukan satu ini “HP”, betul. Toooootttt….tooooootttt….toootttt….


“Halow Assalamualaikum, apa benar ini numb-nya Kak Ahong?”

“Hahahahahaha.”

“Kok ketawa?” 

“Dek Dek, ini Barbie Adik ku bawel ta?”

“Ya Allah Kak Ahong, iya ini aku Nia?”

“Ada apa telepon Dek? Kapan main sini sama Suami dan Anakmu?”

“Kakak juga lama nggak main sini, hayoooooooooooo?”

“Hehehe iya, soale ini anak-anak belum bisa. Sebenere aku sama Mami-nya pengen silaturahmi kesana, tapi belum ada waktu.”

“Huuuuuuuuh moga-moga aja kapan-kapan bisa ketemu… Oh ya, mana Mbak Tina dan Anak-anakmu kok suara nya kayak sepi Kak?”

“Amin. Maminya ada jadwal ngajar di kampus, kalau Anak-anak ada Ekstrakulikuler. Tapi aku pas nggak ada jam ini tadi Dek, mana Suamimu aku pengen ngobrol?”

“By ini Kak Ahong mau ngobrol katanya” panggilku sambil memberikan HP ke suami.

“Halooo Mas Ahong apa kabar? Hemmmm lama nggak maen sini.”

“Hehehehe maaf Mas, tadi alasannya sudah tak bilangin ke Istrimu. Hahaha…..”

“Hahaha Mas masih suka bercanda?”

“Iya Mas biar awet muda, hehehe. Oh ya kok tumben telepon nih tadi ada apa?”

“Gini Mas, kamu tahu nggak tentang cerita Istriku mengenai keluarganya?”

“Cerita tentang keluarganya yang bagaimana low?”

“Tentang Istriku yang sebenarnya anak orang Tionghoa, yang dijadikan anak angkat Ibu dan Ayah Nia sekarang.”

“Apa! (Terkejut) Aku malah nggak tahu tentang itu. Tetapi dulu nggak sengaja waktu lewat, aku mendengarkan Ayah bercakap dengan Ibu tentang anak Tionghoa yang diadopsi, selanjutnya aku nggak tahu. Langsung ke ruang tamu aja. Pikirku itu bukan kisah Nia, jadi aku nggak mau ikut campur. Ibu dan Ayah mungkin mengerti.”

“Benarkah Mas?!?! Apakah bisa kami menemui beliau?”

“Begini saja, aku hubungi orang tua ku dulu. Nanti aku kabarin kalian selanjutnya tak anter ke rumah beliau.” 

“Oke Mas, terimakasih.”

“Sama-sama. Tak bicara sama Adek Barbie Istrimu boleh? Tapi jangan cemburu low hehehe.”

“Boleh Mas. Hahaha Mas ini bisa aja” memberikan HP-nya kepadaku.

“Halooooo Kak, aku udah mendengar percakapan kalian. Makasih ya. Kira-kira kapan rencana selanjutnya itu Kak?”

“Sabar lah Dek, masih tetap aja sikapnya terburu-buru. Ingat bahwa orang sabar disayang Tuhan, kalau nggak sabar disayang setan mau hehehe? Gini Dek di saat seperti ini, harapanku kamu tetap terjalin baik dengan keluargamu sekarang dan setelah Ayah memberitahu semuanya bahkan mungkin dapat menemukan keluarga kandungmu. Temuilah keluarga angkat mu dengan baik-baik dan terimakasih atas segalanya, jangan pernah berkurang kasih sayangmu pada mereka yang telah membesarkanmu!”

“Hehehe Kakak bisa aja, ya maunya disayang Allah lah. Oke aku sabar. Ya Kak makasih banget atas nasehatnya, tentunya aku akan tetap seperti yang engkau katakan itu Kak, sebab bagaimanapun mereka tetap orang tuaku dan aku sudah menganggap mereka orang tua kandungku. Tapi bagaimana pun aku juga ingin bertemu dengan keluarga ku yang sebenarnya.”

“Oke Dek bagus, oh ya udah gitu dulu ya Dek ini aku mau jemput Istriku. Kapan-kapan disambung lagi, untuk kabar yang selanjutnya.”

“Ya Kak oke. Terimakasih. Salam buat Mbak Tina dan Anakmu”

“Oke, aku juga salam buat Suamimu dan buah hatimu. Assalamualaikum,”

“Oke Kak. Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” 


***

   

Berkaburan lentera-lentera daun di tengah awan, pagi bening mengecup langit. Seakan mengucapkan gelatik gemuruh hati, sebuah kata yang ingin ku dengar. Mengepakkan sayap dalam tataran tanah, meresapi setiap hembusan lewatnya angin. Senada dengan nyanyian penuh dengan kelembutan kasih. Mendengar lagu “Bunda” ciptaan Melly Goeslaw, sambil lukisan-lukisan diskusi bersama Sang Merpati Putih di taman depan rumah. Duduk bersemayam memandang langit cerah, menanti sebuah kabar datang.  Kebetulan tahun ajaran baru, kedua sepasang membumbui percakapan mengenai kampus.


“By kemaren gimana masuk ajaran baru?” tanyaku.

“Alhamdulillah lancar Umy, ada peningkatan Maba tahun ini.” 

“Peningkatan kualitas atau kuantitas By?” 

“Kuantitas dan kualitas My. Maba sejumlah 1300, dengan sikap lebih kritis tahun ini dibanding dulu. Kebetulan kemarin Aby ngajar filsafat dengan tema aliran-aliran filsafat. Pas Aby bahas tentang Rasionalisme yaitu kebenaran diukur dengan rasio, salah satu tokohnya Descartes. Melalui konsep  “Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada”, keberadaan yang paling objektif ialah dirinya yang sedang berpikir, sebab manusia memiliki ide bawaan dari Sang Pencipta yang dapat menemukan kebenaran. Salah satu kata tokoh ini “Tinggalkan seluruh bukumu” sebab manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dengan ide bawaannya. Ketika Aby bahas itu anak-anak banyak yang melontarkan pertanyaan dan tambahan My."

“Wah, keren ya By diskusi di kelas kemarin….!!!??? Umy jadi pengen ngajar juga. Setelah beberapa buku Umy sudah dibedah dan mendapat undangan seminar berkali-kali. Umy pikir supaya mengamalkan ilmunya lebih lengkap perlu mengajar.”

“Beneran Umy! Merpati mu disini setuju.”

“Hehehe iya tapi belum sekarang By, masih mau fokus mencari orang tua kandung Umy. Mana ya Kak Ahong kok belum konfirmasi mengenai Ayah-nya?”

“Iya, Aby akan terus dukung Umy. Sabar ya My?”

“Oke. Makasih Aby?”

“Sama-sama.”


Beberapa menit kemudian terdengarlah suara gemuruh huuuuusssss. Ternyata mobil melaju, di depan rumah sepasang yang sedang bercakap ini. Kaki demi kaki mulai menginjak tanah, dan menampakkan batang hidungnya. Siapakan seorang berbaju hitam terlihat dari belakang itu. Wah, ternyata Kak Ahong sahabat yang sedang ku bicarakan dengan suami. Kebetulan kami sangat menanti kabar darinya. Seakan jari-jemari melambai ke dalam hatiku, sedang hampir copot rasanya tak sabar mendapatkan info. Lalu, segera dipertemukan dengan Ayah Kak Ahong.


“Kak Ahoooooooong” seketika teriakanku melengking.

“Alkhamdulillah, ternyata yang di tunggu-tunggu datang juga” gumam suami. 

“Hemmmmmmmm saya kok jadi kayak Artis dinanti-nanti, mau minta tanda tangan ya ? Hehehe” canda Kak Ahong.

“Kamu itu Kak masih aja suka bercanda berlebihan di kala serius” sahutku.

“Supaya tidak terlalu tegang lo My, ayo Mas kita masuk dulu ngobrol di dalam!” tanggap suami mengajak masuk.

“Maaf Sahabat, mari kita langsung berangkat ke rumah Ayah saja untuk melakukan misi” jawab Ahong.

“Ya sudah kalau begitu, ayoo” serentak aku dan suami.

“Sebentar saya titip pesan salam untuk Nadia ke Bibik dulu” izinku.


Angin menghembuskan tegukan air, mengurangi kehausan. Selama ini tak terbendung. Kondisinya. Beberapa jam kemudian, sampai rumah Ayah Kak Ahong. Sepatah langkah memasuki ruangan. Duduk di ruang tamu, disambut ramah. Bicara panjang lebar, dilanjut dengan percakapan mengenai kisahku sebenarnya. Awalnya, tidak mau memberi tahu. Akhirnya, karena rengekanku terus-menerus beliau bersedia jujur.


Ayah Kak Ahong menceritakan semuanya, tentang diriku. Secara detail, dari awal hingga akhir. Mulai dari siapa keluargaku. Bagaimana kronologinya. Proses kelahiranku. Hingga, alasan aku harus dipisahkan dengan orang tuaku dan diadopsi oleh Ibu dan Ayah sekarang.


“Terimakasih Pak. Tapi mengapa selama ini Ayah dan Ibu saya tidak pernah memberitahu saya Pak?” tanyaku.

“Sebab mereka sangat menyayangimu, takut jika kamu akan terluka mendengarnya dan takut kehilanganmu Nduk.”

“Ya Allah, lalu bagaimana supaya bisa menemui orang tua kandung saya Pak?”

“Saya mempunyai nomor telepon Mas kandung-mu Nduk, supaya kamu bisa menghubunginya.”


Dari situlah, langit yang tertutupi kabut seakan mulai menyingkap. Cahaya mentari pagi mulai menyinari, memberi jalan tapakan kaki untuk dapat menemukan orang tua kandungku. Melalui nomer Mas kandungku  bernama Steven, yang diberikan Ayah Kak Ahong. Aku pun dapat menghubungi. Menjalin hubungan melalui telepon, bercakap-cakap mengenai kondisi keluarga disana. Janjian secepatnya berjumpa, dan bersama-sama menemui keluarga.


Tulungagung, 30 Oktober 2016

(Merupakan isi dari terbitan karya buku solo kedua Saya novel biografi, berjudul "MEMBUSUK DI DALAM SURGA"




DUKUNG SITUS INI YA PEMIRSA, SUPAYA KAMI SEMANGAT UPLOAD CONTENT DAN BERBAGI ILMU SERTA MANFAAT.

DONASI DAPAT MELALUI BERIKUT INI =


0177-01-042715-50-9

EKA APRILIA.... BRI...


0895367203860

EKA APRILIA, OVO











0 Response to "BAB 10 Novel Membusuk di Dalam Surga, Habis Gelap Terbitlah Terang"

Post a Comment

Iklan Dalam Artikel

Iklan Adnow

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Adnow