(Bisnis Komunikasi Jaringan), "Solusi Kerjasama!"

BAB 11 Novel Membusuk di Dalam Surga, Abrak-Kadabra

Novel Biografi


Penulis_@Ratu Eka Bkj

(Eka Aprilia)



11

Abrak-Kadabra



Ketika raga tetap membanting setir, di bawah terik matahari. Angin kabut seakan menerpa tubuh. Jasad tak pernah lelah membanting tulang, untuk menggapai sutra hati. Baju asli diriku. Satu kata Bahasa Arab terngiang di telinga “Man Jadda Wajada”, menjadi bukti nyata perjuanganku selama ini.


Perbincangan dengan Kakakku di telepon, membuahkan bunga manis. Dia menyampaikan bahwa, Kakak sering menyuplai elektronik di Jawa Timur. Termasuk Ponorogo, dimana aku tinggal sekarang. Mendengar kabar tersebut, hati seakan bergetar. Aku mengajak bertemu secepatnya, Kakak meminta berjumpa saat menyuplai elektronik di Ponorogo.


SubhanAllah,,,,,, beberapa hari kemudian seakan tangan ini meraih bintang di surga. Hati berkobar tak terhingga.


Tuuuuliling….Tulililing…Tulililing…. Suara HP terdengar di telinga. Bergegas mengambilnya. Mengangkat Telepon.


“Halo Salam,”

“Halo juga, Salam Dek. Ini Kakak Steven Dek.”

“Iya Kak.  Kakak sekarang ada dimana?”

“Ini Kakak di terminal Ponorogo. Kakak baru pulang mensuplai barang. Bisa kita bertemu, dan langsung ke Jakarta?”

“Beneran Kak!?!? Iya Kak, bisa banget,” jawabku dengan wajah terkejut bahagia.

“Sip. Kalau begitu buruan kesini ya! Kita langsung ke rumah. Maaf Nia Kakak belum sempat mampir rumahmu,”

“Ya Kak nggak papa, lain kali Kakak kesini ya? Kak tapi kami ingin jemput Ibu dan Ayah di rumah dulu ya?”

“Ya.  Jangan lama-lama Dek?”

“Oke.” 


Sebelum berangkat ke tempat tujuan, kegembiraan ini memuncak-muncak. Ingin rasanya ku berbagi. Segera aku berteriak, memanggil keluarga serumah.  


“Abyyyyyyyy……..Nadiaaaaaaaa……… Bibiiiiiiiikkkkkk….” teriakku sambil berlari.

“Ada apa Myyy?” serentak Nadia dan Aby sambil menghampiri.

“Iya Nya ada apa teriak-teriak? Wajahnya padang jingglang, hehehe” sahut Bibik mencandai.

“Umy senang sekali,,,,,!!!!!???? Kita akan ketemu keluarga kandungku” dengan nada terbata, saking senangnya.

“Maksud Umy?” nada penasaran.

“Kakak telepon. Katanya dia sedang di terminal Ponorogo, baru mensuplai barang. Mengajak kita  bertemu orang tuaku di Jakarta hari ini” paparku.

“Alhamdulillah” serentak Aby, Nadia, dan Bibik.

“Umy …..Kakek Suparlan dan Nenek Tensin apa nggak diajak?” tanya Nadia.

“Iya My, jangan lupa Ibu dan Ayah!” sahut Aby mengingatkan.

“Ya Allah. Iya pasti Nenek Tensin dan Kakek Suparlan harus diajak. Sekarang juga Umy akan mengabarkan.”

“Buruan ditelepon aja Nya…” ungkap Bibik menyarankan.

“Oke. (Kemudian ku angkat teknologi bicara ini, sambil memencet nomer Ibu dan Ayah) tuuuuuuuuttt tuuuuuutttt tuuuttttt, halo Assalamualaikum Bu?”

“Wa’alaikumsalam Nduk. Ya Allah, bagaimana kabarnya keluarga semua Nduk? Ibu karo Ayah kangen”  kata Ibu dengan suaranya yang lembut.

“Alhamdulillah baik Ibu. Bu ini Nia mau bicara kaleh Njenengan berdua,”

Ngomong opo Nduk?”

“Gini Bu, sebelumnya Nia minta maaf. Selama ini Nia sudah lancang mencari jati diri dan keluarga kandung Nia yang sebenarnya, tanpa sepengetahuan Ibu dan Ayah. Nia sudah tahu segalanya.”

Gusti Allah, Ibu karo Ayah njaluk sepuro yo Nduk wes ngapusi sampean. Ibu karo Ayah pantes sampean tinggal, tapi Ibu karo Ayah nutupi iki kabeh mok wedi sampean sedih lan ninggalne Ibu karo Ayah” papar Ibu dengan nada penyesalan.

“Ya Allah Bu, sungguh Nia tidak punya niat sedikit pun marah atau bahkan meninggalkan Ibu dan Ayah. Nia sayang kaleh Njenengan sedhoyo. Nia tahu pasti semua itu Ibu dan Ayah lakukan demi kebaikan kita. Sebenarnya Nia telepon sekarang ini karena ingin memberi tahu, Nia mau mengajak Ibu dan Ayah ke Jakarta menemui keluarga Nia, supaya kita bisa berkumpul bersama. Nia sayang kalian semua.”

“Makasih Nduk kamu memang anak yang baik. Alhamdulillah kamu sudah menemukan keluarga kandungmu, loh sekarang mereka pindah di Jakarta Nia? Kayaknya Ibu dan Ayah nggak bisa ikut, nggak enak dengan mereka.”

“Iya Bu sama-sama. Nia seharusnya yang lebih berterima kasih dengan Ibu dan Ayah. Iya Bu mereka pindah di Jakarta kata Kakak. Jangan merasa begitu Bu, kita semua keluarga. Pasti akan merasa kecewa jika Ibu dan Ayah tidak ikut. Nia akan sangat kecewa……..!!!????

“Ya Nduk, kalau begitu Ibu dan Ayah ikut”

“Oke Bu sekarang kita meluncur berangkat, nanti kita jemput Ibu dan Ayah.”

“Ya Nduk.”


Berangkat dengan mengendarai mobil sekeluarga, langkah pasti mengiring niat lurus dalam hati. Semoga menjadi berkah dari Sang Ilahi. Setelah kita jemput Ibu dan Ayah di rumah Tulungagung, perjalanan pun dilanjutkan menuju tempat tujuan. Sepanjang perjalanan ke terminal Ponorogo hati begitu senang tapi resah. Bagaimana tidak, sejak kecil aku belum pernah bertemu Mama (Ibu kandungku). Khawatir, jangan-jangan beliau tidak mengakui aku sebagai anaknya. Namun, aku yakin pasti keindahan itu datang. Mereka membuka tangan. Memeluk. Bersama-sama dalam keluarga besar. 


Beberapa jam kemudian, sampailah di terminal Ponorogo. Semua keluar dari mobil. Melihat kanan kiri, mengitari jalan. Belum ada sedikitpun ciri-ciri yang ada dalam foto Kak Steven. Ah ku pikir, kenapa tidak SMS Kakak saja? Secepatnya mengambil HP di tas. Tangan bergerak menyentuh benda itu, membuka. Tiba-tiba suatu SMS yang tak pernah diharapkan…………………!!!!???!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!


“Salam Dek. Dek maaf Kakak belum bisa jadi ketemu kamu sekarang. Tiba-tiba Bos SMS, meminta segera balik ke kantor Jakarta, ada barang mendadak yang perlu disuplai ke Malang. Kakak sudah tunggu kamu tadi di terminal, lama nggak datang-datang. Maafin Kakak Dek. Lain kali kita akan berjumpa.”

Semua berubah, pilu, lemas menyelimuti kalbu…... 


***


Perjalanan menuju kantor Jakarta, dengan kecepatan mobil di atas rata-rata. Tibalah Kak Steven disana. Menghadapi Bos. Bergegas menjalankan tugas. Mengantar barang ke Malang. Konsumen meminta secepatnya, hari ini juga. Kembali menduduki mobil dan ngeeeeeeenggggggg, suara melaju cepat. Tugas telah beres. Setelah semua selesai, Kak Steven teringat aku, merasa bersalah, ingin rasanya menelpon dan mengucapkan maaf sekali lagi. Mencari-cari HP. Tak disangka………. “Abrak-Kadabra”……


“Lo! Hp ku kemana? Kok di tas nggak ada, di jaket nggak ada, di mobil nggak ada. Astaga….!” keluh Kak Steven terkejut.


Mencoba merenung, mengingat-ingat dimana terakhir menaruh.


“Astaga, tidak……! Jangan-jangan ketinggalan di warung dekat terminal, pas aku duduk tadi…….? Astaga iya, aku tadi menaruh disana, lupa belum ku ambil. Bagaimana ini, nomor-nomor sangat penting. Walaupun masih ada HP ku yang satunya, astaga. Di HP itu satu-satunya tersimpan Nomer Nia sekeluarga dan keluarga Ahong. Ya Tuhan, mana mungkin? Bagaimana aku bisa menghubungi kembali keluarga sana untuk dapat bertemu, Oh God help me?”


***


Beberapa hari kemudian, aku raih Nokia dalam genggaman. Aku mencoba kembali menghubungi Kak Steven. Ingin berjanjian lagi bertemu.

Tooooooooooooooottttttttttttt….. Toooooooooooootttttttttttt…..Toooooooooootttttttttttt …….. Bunyi Nokia.


“Halo Salam Kak?”

“Salam,,,,!!!!! Siapa!?!?” jawab pengangkat telepon dengan nada sinis.

“Ini saya Nia Kak, masak lupa?”

“Nia siapa sih, nggak kenal!”

“Adik Kakak,”

“Salah sambung….”


Tut tut tut…..tut….tut…… Tiba-tiba telepon mati. Aku merasa sedih. Berpikir kenapa Kak Steven setega itu sinis? Melupakanku. Aku berpikir panjang. Kegelisahan tak karuan. Aku ceritakan semuanya ke keluargaku. Kami berpikir tak mungkin itu Kak Steven. Aku teringat suara itu, sangat berbeda dengan suara Kak Steven. 


“Membusuk di Dalam Surga!!!???? Entah apa yang terjadi. Jalan ini sungguh berliku. Ku kira senyuman di mata. Namun semua hanya angin terlewat belaka. Ku kira surga, tapi luka memar di dalam jiwa, mungkinkah hingga berbau? Nyeri. Hanya dapat ku menunggu. Hingga ridho Tuhan mempertemukan kami.………… Pasti ada hikmah terbaik di balik semua ini… Kupasrahkan pada Allah SWT” celotehku dalam hati.


***


Man jadda wajada…….

Sebuah degup Arab terngiang

Menjadi saksi bisu

Gebyur langkah demi langkah


Man jadda wajada….

Sepanjang laju kaki

Gerak langkah tak terhenti

Walau angin akan menerpa

Jasad tetap saja kokoh


Man jadda wajada……

Sebongkah hati merah merona

Bersudut tajam demi garis tangan

Membanting tulang…….

Menyeset kulit ……….

Berputar-putar hingga bundar

Demi menemukan kain sutra


Man jadda wajada

Ungkapan itu bagaikan mukjizat

Setiap kutik hati, langkah, doa

Menjadi senyuman

Sebujur nyawa, mengantarkan ke jalan jiwa


Ternyata……………

Semua hanya mimpi, hanya angin lewat belaka

Abrak-Kadabra…….

Pilunya  jiwa, lebih pilu kenyataan dunia 

Ku hanya mampu menunggu, menunggu, menunggu

Menunggu tangan Tuhan menyatukan kami, kembali di sisi 



Tulungagung, 30 Oktober 2016

(Merupakan isi dari terbitan karya buku solo kedua Saya novel biografi, berjudul "MEMBUSUK DI DALAM SURGA"





DUKUNG SITUS INI YA PEMIRSA, SUPAYA KAMI SEMANGAT UPLOAD CONTENT DAN BERBAGI ILMU SERTA MANFAAT.

DONASI DAPAT MELALUI BERIKUT INI =


0177-01-042715-50-9

EKA APRILIA.... BRI...


0895367203860

EKA APRILIA, OVO




0 Response to "BAB 11 Novel Membusuk di Dalam Surga, Abrak-Kadabra"

Post a Comment

Iklan Dalam Artikel

Iklan Adnow

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Adnow